Psikologi – Darimana rasa sakit itu muncul

Dah lama ga nulis ttg psikologi :)
Bukannya aku ahli psikologi, cuma aku tertarik aja ama yg namanya psikologi. Kali ini temanya tentang “Sakit”.
Beberapa dari kita mungkin pernah mengalami indahnya jatuh cinta, menjalani hari-hari dengan sang kekasih, berbagi suka dan duka, dunia merasa milik berdua (katanya) :p
Namun ketika semua keindahan itu pudar, dan kita menemukan impian-impian indah itu hilang, yang ada tinggal satu kata “Sakit”.  Darimana rasa sakit itu muncul??

Sebuah kejadian nyata di hidupku yg membuatku sering bertanya kenapa begini dan kenapa begitu. Dalam urusan percintaan aku pernah mempunyai hubungan dengan beberapa cewe beberapa kali, dan ada satu fase yg terus aku alami. Sahabat->Suka->Cinta->Putus->Sakit hati. Begitu berulang2. Dari fase tersebut sakit hati itung berulang-ulang, itu yg aku bingungkan kenapa hal itu bisa terjadi. Sebagai perbandingan gini, ketika kita mengalami keadaan yg sama secara berulang-ulang, batin kita seharusnya terbiasa dengan hal semacam itu. Jadi seharusnya misal aku sering putus, rasa sakit itu seharusnya ga aku rasakan lagi, cos seharusnya batin ini sudah terlatih merasakan sakit. Mungkin bagi beberapa orang tidak merasakan rasa sakit, dan mungkin karena mereka sudah lebih terbiasa gonta-ganti pasangan :)

Logika mulai kujalankan untuk analisa kenapa rasa sakit ini muncul. Dirunut dari fase sebelumnya, keadaan yg sekarang “dia bukan siapa2 kita” sebenarnya sama persis ketika pertama kali kita mengenal dia. Statusnya sama, saling tidak memiliki status sebagai pacar, dan perhatian cukup hanya sebagai seorang kawan. Nah mungkin rasa sakit itu tidak akan hadir jika hubungan itu tidak melewati fase pacaran. Fase inilah sebenarnya yg membuat rasa sakit itu muncul. Hari-hari kita mungkin sering dihabiskan dengan sang kekasih, menikmati indahnya dunia, berbagi suka dan duka, dll. Sungguh pengalaman yg pastinya akan mempunyai kesan tersendiri tentunya. Lalu ketika putus, semua itu hilang. Stress menjalani hidup, hidup rasanya ada yg kurang, dll. Sebenarnya yg terjadi adalah “Kita kehilangan kebiasaan hidup yg kita ‘anggap’ menyenangkan”, that’s it. Dan percaya atau tidak, ketika bertemu orang lain, dan kita dapat pengganti seseorang untuk menjalani “Kebiasaan” itu, rasa sakit itu juga mulai pudar :)

Jadi semua itu menurutku masalah “Kebiasaan”. Sebuah “Kebiasaan” itu tanpa disadari membentuk sebuah mental bagi kita, ketika kita hidup dengan sebuah “Kebiasaan A” dan tiba-tiba kenyataan hidup merubah kebiasaan hidup kita menjadi B, terkadang itu membawa duka dan terkadang membawa suka. Tak hanya masalah cinta, masalah “Kebiasaan” ini berlaku untuk semua permasalahan manusia yang ada.

Contoh cerita, seorang keluarga pengusaha yg kaya raya, hidup mereka serba cukup dan mereka bahagia dengan keadaan seperti itu. Namun hidup berubah, perusahaan bangkrut, hutang bank bertambah dan kehidupan yg serba cukup menjadi serba sulit. Sebuah pukulan telak bagi kehidupan mereka yg kehilangan kebiasaan serba kecukupan. Bisa dijamin mereka stress dan frustasi dengan kebiasaan hidup baru mereka yg harus mereka hadapi. Walaupun sebenarnya banyak keluarga yg mempunyai kebiasaan serba kurang, tapi mereka tidak merasa sefrustasi keluarga ex kaya itu. Karena mereka sudah terbiasa dengan hidup yg seperti itu. Itulah sebabnya semua ini masalah “Kebiasaan”.

Sebuah fenomena hidup yg mungkin dari kita tidak menyadari apa yg terjadi. Pernah mungkin dari kita melihat reality show “Bila aku menjadi..”, sebuah reality show yg mengangkat cerita ttg kehidupan yg berbeda yg harus diperankan oleh tokoh utamanya. Semua ini tentang kebiasaan.

Jadi bagi teman2 yg mungkin sedang hidup di  “kebiasaan” yg kalian inginkan, bersyukurlah! Berterima kasihlah atas berkah yg diberikan oleh-Nya, semoga “kebiasaan” itu tetap menjadi milik kalian. Bagi teman2 yg sedang menjalani “kebiasaan” pahit, jangan menyerah kawan! Hidup ini seharusnya indah, cuma bagaimana cara kita memandang hidup. Jauhkan pemikiran negatif yg hanya akan membuatmu semakin terpuruk, berpikirlah positif agar hidupmu lebih terasa mudah untuk dijalani.

2 Responses to “Psikologi – Darimana rasa sakit itu muncul”

  1. Meymey Says:

    berkata mudah daripada menjalankan kenyataan…..
    bagaimamn agar kita bisa bangkit dari keterrpurukan rasa salit yang tiombul dari hidup dan kehidupan ini……………..

    • leoganda Says:

      Memang berbicara itu mudah.

      Namun bagi beberapa orang, permasalahan yg ada itu sebenarnya menguatkan kita.
      Saya biasanya sih self hypnotize, berusaha mencari sesuatu hal yg positif dari keterpurukan yg terjadi.
      Cukup membantu menguatkan batin ini untuk tetap bersemangat menjalani hidup.


Leave a Reply